Sumber: ChicagoTribune.com
Ketika sakit, Saksi-Saksi Yehuwa memiliki sekutu dokter
Para dokter berupaya menemukan jalan tengah bagi Saksi-Saksi Yehuwa yang meyakini prosedur medis tertentu melanggar iman mereka
Oleh M.B. Sutherland
17 Juli 2009
Setelah merasakan sakit yang menyiksa di pinggangnya pada suatu hari, Glenease Stinson, 75 thn, mendapati bahwa dia memiliki sebuah tumor ginjal yang berbahaya dan bahwa ginjalnya perlu diangkat. Semua pembedahan memiliki risiko, namun dia memiliki sebuah risiko yang besar: Sebagai seorang Saksi-Saksi Yehuwa, dia tidak dapat menerima transfusi darah.
Saksi-Saksi mengutip Kisah 15:28-29 dan ayat-ayat lain di dalam Alkitab untuk mendukung kepercayaan mereka bahwa memasukkan darah ke dalam tubuh melalui mulut atau pembuluh darah melanggar hukum Allah. Mereka tidak akan menerima darah meskipun untuk menyelamatkan kehidupan mereka.
Namun urolog RS Adventist Bolingbrook Dr. Avtar Dhindsa memiliki kartu As bagi Stinson. Dia membentuk sebuah tim yang termasuk Dr. Michael Tuchek, seorang pakar dalam mengolah kebutuhan medis dan pendirian religius.
“Saya ditempatkan di dalam daftar Saksi-Saksi Yehuwa, karena tidak punya istilah yang lebih tepat,” kata Tuchek, seorang ahli bedah cardiothoracic dan vaskuler, merujuk pada daftar yang dibuat gereja itu yang berisi dokter-dokter yang berpengalaman dalam pembedahan tanpa transfusi.
Tuchek memperkirakan bahwa dirinya melakukan satu atau lebih pembedahan setiap bulan pada Saksi-Saksi.
“Pendarahaan adalah masalah yang nyata,” kata Tuchek, seorang rekanan senior dalam Asosiasi Pembedahan Kardiak di Downers Groove. “30 hingga 50 persen pasien [bedah] jantung membutuhkan transfusi darah.” Tuchek berkata bahwa dia mulai menangani Saksi-Saksi ketika dia bekerja pada tahun 1980-an dan seorang Saksi datang dengan luka bakar di 70 persen tubuhnya.
“Saya dipanggil, namun sewaktu saya tiba di sana, saya melihat sebuah kebutuhan,” kata Tuchek. “Banyak [dokter] yang tidak ingin menyentuh pasien Saksi-Saksi Yehuwa karena [rasa takut] mereka akan dituntut. Saya melihat bahwa pasien tersebut tulus. Mereka memiliki hak untuk memutuskan. Saya kita mereka harus diperlakukan dengan respek yang sama seperti orang lain dalam membuat pilihan medis.”
Stinson, asal Bolingbrook, mengerti risiko-risiko pembedahan ginjal namun menolak transfusi.
“Saya tahu saya lebih baik mati daripada melanggar salah satu hukum Allah,” dia berkata.
Sementara Stinson tidak ragu-ragu, beberapa Saksi yang membutuhkan seorang dokter mencari pertolongan dari Komite Penghubung Rumah Sakit Saksi-Saksi Yehuwa, sebuah kelompok yang fungsi utamanya adalah untuk mengedukasi dan menghubungkan pasien bersama para dokter yang nyaman bekerja dengan mereka, kata T.J. Bullock, ketua komite itu.
“Kami dengan teguh percaya bahwa hal ini perlu menjadi keputusan [pasien],” dia berkata.
Kelompok ini terdiri dari para penatua gereja yang memiliki latar belakang medis atau kecakapan medis. Biasanya, kata Bullock, mereka membantu menfasilitasi apa yang telah diputuskan oleh pasien.
“Adakah sebuah pengobatan yang belum terpikirkan oleh dokter ini? Sebuah pendekatan berbeda yang mereka tidak gunakan? Dokter lain yang mungkin lebih menolong?” dia berkata.
Teknik-teknik baru telah dikembangkan, termasuk ablasi alkohol – sebuah metoda berbasis kateter yang digunakan bagi Stinson oleh Dr. Luke Sewall, seorang radiolog interventional – untuk meminimalkan kehilangan darah. Sebelumnya, pembedahan tanpa transfusi berarti Saksi-Saksi meninggal dalam tingkat yang jauh lebih tinggi, kata Tuchek, meskipun tidak ada data tersedia yang mengkonfirmasi tingkat kematian itu.
“Enam atau tujuh tahun lalu di malam Natal, seorang wanita berusia 30-an tahun menderita serangan jantung hebat, dan mereka berupaya memindahkan dia ke beberapa rumah sakit namun tidak ada yang mau menerimanya karena dia adalah seorang Saksi Yehuwa,” kata Tuchek. “Akhirnya saya yang [menangani] dia dan, akhirnya, tingkat hemoglobinnya begitu rendah sehingga dia meninggal di meja bedah. Sejak saat itu teknik-teknik meningkat pesat.”
Teknik-teknik sebelum dan selama pembedahan termasuk penggunaan obat-obatan untuk meningkatkan produksi sel-sel darah merah di tulang belakang, yang meningkatkan tingkat hemoglobin; mengencerkan darah pasien; dan menyalurkan darah pasien ke dalam sebuah mesin jantung-paru untuk mengkonservasi darah sehat untuk dikembalikan sewaktu pembedahan selesai. Setelah pembedahan, dia berkata bahwa dia mungkin menggunakan produk-produk artifisial yang memicu pengentalan darah, dan obat-obatan yang meningkatkan sumsum tulang belakang.
Tuchek – yang menangani pasien-pasien Saksi di rumah sakit di seluruh wilayah Chicago, Iowa, dan Indiana barat laut – berkata bahwa dia merespek keyakinan seorang pasien namun tidak selalu setuju.
“Mereka tahu saya tidak sependapat,” katanya, “namun saya berupaya untuk memastikan bahwa mereka membuat saya yakin bahwa mereka melakukannya untuk alasan yang tepat. Sejauh mereka secara intelektual mengerti keadaannya dan percaya dalam hati bahwa, “Agama saya penting dan ... saya tidak menginginkan darah,” saya tidak memiliki dilema moral apa pun dalam mengoperasi Saksi-Saksi Yehuwa.”
Dalam kasus-kasus Saksi-Saksi Yehuwa yang berusia di bawah 18 tahun, Bullock berkata bahwa para orang tua hampir tidak pernah mengizinkan transfusi darah.
“Jika mereka di bawah 18 tahun, rumah sakit memiliki hak untuk mengambil alih dan mentransfusi seorang anak, dan kami mengerti hal itu,” kata Bullock. “Apa yang direkomendasikan oleh [komite] adalah bahwa kami mencari seorang dokter anak yang memiliki catatan baik dalam bekerjasama untuk memaksimalkan pendirian kami. ... Apa yang kami cari adalah seseorang yang rela berupaya lebih dan melakukan sebisa mereka [untuk menghindari transfusi darah]. Kami berupaya untuk memastikan bahwa pihak pengadilan mengerti bahwa itu bukan soal orang tua yang lalai, itu hanya soal darah.”
Kebanyakan rumah sakit yang telah bekerja sama dengan saya selama ini sangat kooperatif, dia berkata.
“Dan secara kesulurhan, mereka bekerja sangat keras untuk menangani Saksi-Saksi Yehuwa,” kata Bullock.
Metode-metode yang digunakan bagi pasien Saksi dapat menciptakan efek samping yang berpontensi membahayakan, kata Tuchek.
“Membuat darah terlalu kental, darah bisa menggumpal dan menyebabkan serangan jantung atau stroke,” dia berkata. “Sebaliknya, jika kita tidak menggenjot sumsum tulang belakang [Saksi-Saksi], mereka akan kekurangan darah dan tingkat hemoglobinnya rendah. Mereka pucat, tidak bisa bernapas dengan baik, tidak bisa berolahraga, napas mereka pendek.”
Para dokter dan ahli sains sedang berupaya menemukan alternatif-alternatif baru dari transfusi darah, dia berkata.
“Di sebuah medan perang di Irak, mereka membutuhkan darah artifisial yang dapat mengangkut oksigen dan nutrisi tanpa harus berasal dari manusia. ... Sampai saat ini, kita tidak memiliki kemampuan itu, namun orang-orang telah mengupayakannya selama 20 tahun, dan mereka semakin dekat.”
Mengenai Stinson, dia telah pulih sepenuhnya, berterimakasih atas penanganan para dokter dan berpegang teguh pada keyakinannya.
“Saya percaya bahwa jika itu adalah kehendak Yehuwa, saya akan hidup; jika bukan, maka saya tidak akan hidup,” dia berkata.
Baca selengkapnya >>
Sabtu, Juli 18
Rabu, Juli 15
35 Saksi Yehuwa Ikuti Upacara Pembaptisan
Sumber: Koran Sindo
35 Saksi Yehuwa Ikuti Upacara Pembaptisan
Sunday, 05 July 2009
SURABAYA (SI) – Sebanyak 35 saksi Yehuwa kemarin dibaptis.Para penyampai kebenaran firman Tuhan itu dibaptis pada hari kedua kebangkitan distrik bertema ”Pertahankanlah Kesadaranmu,Waspadalah”, yang dihelat di SSCC Pakuwon Trade Center,kemarin.
Dalam ritual pembaptisan,satu per satu saksi Yehuwa masuk ke dalam kolam air berdiameter sekitar 6 meter setinggi 70 sentimeter.Mereka berendam di dalam kolam kurang lebih selama 30 menit.”Ini memang ritual dalam pembaptisan, yang melambangkan penguburan semua perbuatan buruk yang telah dilakukan selama hidupnya,air itukan simbol untuk peleburan,” terang Tjiptadi Edi Subekti,salah seorang panitia.
Sebelum pembabtisan, para saksi Yehuwa itu terlebih dulu mendengarkan khutbah utama tentang ‘Pertahankanlah Kesadaranmu’ yang disampaikan oleh penceramah Rianto Indarto. Dalam pembabtisan, ada dua saksi Yehuwa termuda, kedua adalah Aci Yemima dari sidang (tempat ibadah) Tandes dan Hengky Haryo Prakoso dari sidang Kenjeran yang sama-sama berusia 16 tahun.
”Ada juga saksi Yehuwa tertua yang juga dibaptis, namanya bapak Jayadi yang berusia 70 tahun dari sidang Tuban,” kata Tjiptadi. Dia menjelaskan, tidak mudah bagi saksi Yehuwa untuk mengikuti proses pembaptisan menuju tingkat rohaniwan itu. ”Mereka yang dibaptis itu kan sudah menyatakan dirinya siap untuk menyampaikan ajaran Firman Allah kepada orang lain, sehingga mereka disebut dengan rohaniwan,” jelas Tjiptadi.
Untuk itu,sebelum dibaptis para saksi Yehuwamempelajaribeberapa buku terlebih dulu,di antaranya berjudul ”Apa yang sebenarnya Alkitab ajarkan”dan ”Tetaplah dalam kasih Allah”.”Untuk mempelajarinya paling cepat biasanya butuh waktu enam bulan atau lebih,”terangnya. Tidak sekadar mempelajari buku tersebut, mereka juga diwajibkan untuk menghadiri ibadat Yehuwa.”
Itulah yang menjadi bagian dalam pelatihan menjadi rohaniwan, mereka juga mengikuti sekolah pelayanan teokratis,”bebernya. Di hari kedua kebaktian distrik yang diikuti ribuan saksi Yehuwa dari 35 sidang se-Jawa Timur kemarin, juga diperdengarkan 10 khutbah. Beberapa judul khutbah yang disampaikan adalah Menyelidiki Firman Allah Membantu Kita Mempertahankan kesadaran dan Tirulah Teladan Kewaspadaan Yesus. (emi harris)
Baca selengkapnya >>
35 Saksi Yehuwa Ikuti Upacara Pembaptisan
Sunday, 05 July 2009
SURABAYA (SI) – Sebanyak 35 saksi Yehuwa kemarin dibaptis.Para penyampai kebenaran firman Tuhan itu dibaptis pada hari kedua kebangkitan distrik bertema ”Pertahankanlah Kesadaranmu,Waspadalah”, yang dihelat di SSCC Pakuwon Trade Center,kemarin.
Dalam ritual pembaptisan,satu per satu saksi Yehuwa masuk ke dalam kolam air berdiameter sekitar 6 meter setinggi 70 sentimeter.Mereka berendam di dalam kolam kurang lebih selama 30 menit.”Ini memang ritual dalam pembaptisan, yang melambangkan penguburan semua perbuatan buruk yang telah dilakukan selama hidupnya,air itukan simbol untuk peleburan,” terang Tjiptadi Edi Subekti,salah seorang panitia.
Sebelum pembabtisan, para saksi Yehuwa itu terlebih dulu mendengarkan khutbah utama tentang ‘Pertahankanlah Kesadaranmu’ yang disampaikan oleh penceramah Rianto Indarto. Dalam pembabtisan, ada dua saksi Yehuwa termuda, kedua adalah Aci Yemima dari sidang (tempat ibadah) Tandes dan Hengky Haryo Prakoso dari sidang Kenjeran yang sama-sama berusia 16 tahun.
”Ada juga saksi Yehuwa tertua yang juga dibaptis, namanya bapak Jayadi yang berusia 70 tahun dari sidang Tuban,” kata Tjiptadi. Dia menjelaskan, tidak mudah bagi saksi Yehuwa untuk mengikuti proses pembaptisan menuju tingkat rohaniwan itu. ”Mereka yang dibaptis itu kan sudah menyatakan dirinya siap untuk menyampaikan ajaran Firman Allah kepada orang lain, sehingga mereka disebut dengan rohaniwan,” jelas Tjiptadi.
Untuk itu,sebelum dibaptis para saksi Yehuwamempelajaribeberapa buku terlebih dulu,di antaranya berjudul ”Apa yang sebenarnya Alkitab ajarkan”dan ”Tetaplah dalam kasih Allah”.”Untuk mempelajarinya paling cepat biasanya butuh waktu enam bulan atau lebih,”terangnya. Tidak sekadar mempelajari buku tersebut, mereka juga diwajibkan untuk menghadiri ibadat Yehuwa.”
Itulah yang menjadi bagian dalam pelatihan menjadi rohaniwan, mereka juga mengikuti sekolah pelayanan teokratis,”bebernya. Di hari kedua kebaktian distrik yang diikuti ribuan saksi Yehuwa dari 35 sidang se-Jawa Timur kemarin, juga diperdengarkan 10 khutbah. Beberapa judul khutbah yang disampaikan adalah Menyelidiki Firman Allah Membantu Kita Mempertahankan kesadaran dan Tirulah Teladan Kewaspadaan Yesus. (emi harris)
Baca selengkapnya >>
Menunggu Saksi Kembali
Sumber: Surabaya Post
Menunggu Saksi Kembali
Senin, 6 Juli 2009 | 09:57 WIB
SURABAYA - Seorang lelaki muda berkemeja putih tengah berdebat dengan seorang pria paro baya. David, lelaki muda itu, sepertinya tak suka terhadap masukan lelaki di depannya yang tak lain ayahnya sendiri.
"Ini mengekang aku," kata David. Ia berkata tentang nasihat ayahnya agar dia kembali menjadi saksi Yehuwa.
Ayahnya tak mau menyerah. Kembali keluar nasihat dari mulutnya, "Hukum Yehuwa tidak mengekang kita, malah melindungi kita."
Namun, seruan ini tidak dihiraukan oleh David. Dia memilih pergi meninggalkan rumah setelah mendapat harta dari ayahnya. Mirip cerita sinetron, David pun berhura-hura dan mabuk-mabukan sekeluarnya dari rumah. Puncaknya, David mengalami kecelakaan setelah satu mobil dengan kawannya yang berkendara dalam keadaan mabuk.
Saat itulah David sadar, mabuk-mabukan dan kebiasaan buruk lain hanya menghancurkan kehidupannya sendiri. Dia pun teringat pada nasihat orangtuanya untuk tetap bersama Yehuwa.
Tak menunggu lama, David pun menghubungi ayahnya dan menyatakan akan bertobat dan pulang ke rumah. Ayahnya yang begitu gembira membalasnya dengan menggelar pesta menyambut kedatangan anak yang hilang.
Kisah happy ending ini adalah drama "Saudaramu Telah Mati dan Hidup Kembali" yang dihadirkan dalam Kebaktian Saksi Yehuwa Distrik Jatim 2009, Minggu (5/7). Menurut panitia Kebaktian Saksi-saksi Yehuwa Jatim, Tjiptadi Edi Subekti, drama ini merupakan adaptasi dari kisah Lukas 15:11-32 tentang anak yang hilang.
"Inti dari drama ini adalah Allah Yehuwa mau menerima kembali orang yang berbuat kesalahan, asal bertobat dengan sungguh-sungguh. Pasti diterima kembali," katanya, .
Sekitar 3.005 orang saksi-saksi Yehuwa memadati SSCC Pakuwon Trade Center. Mengusung tema 'Tetaplah Berjaga-jaga', kebaktian ini mengampanyekan uraian Alkitab mengenai akhir dunia.
Menurut Tjiptadi, tema ini bagus untuk menumbuhkan kewaspadaan secara rohani sebagaimana yang ditonjolkan Yesus dalam pelayanannya. "Kita benar-benar harus memperhatikan dengan serius bukan hanya peristiwa sekarang ini, namun juga makna Alkitab di balik itu semua," tuturnya. Selain di Surabaya, kebaktian ini juga digelar di 26 kota lainnya. k2
Baca selengkapnya >>
Menunggu Saksi Kembali
Senin, 6 Juli 2009 | 09:57 WIB
SURABAYA - Seorang lelaki muda berkemeja putih tengah berdebat dengan seorang pria paro baya. David, lelaki muda itu, sepertinya tak suka terhadap masukan lelaki di depannya yang tak lain ayahnya sendiri.
"Ini mengekang aku," kata David. Ia berkata tentang nasihat ayahnya agar dia kembali menjadi saksi Yehuwa.
Ayahnya tak mau menyerah. Kembali keluar nasihat dari mulutnya, "Hukum Yehuwa tidak mengekang kita, malah melindungi kita."
Namun, seruan ini tidak dihiraukan oleh David. Dia memilih pergi meninggalkan rumah setelah mendapat harta dari ayahnya. Mirip cerita sinetron, David pun berhura-hura dan mabuk-mabukan sekeluarnya dari rumah. Puncaknya, David mengalami kecelakaan setelah satu mobil dengan kawannya yang berkendara dalam keadaan mabuk.
Saat itulah David sadar, mabuk-mabukan dan kebiasaan buruk lain hanya menghancurkan kehidupannya sendiri. Dia pun teringat pada nasihat orangtuanya untuk tetap bersama Yehuwa.
Tak menunggu lama, David pun menghubungi ayahnya dan menyatakan akan bertobat dan pulang ke rumah. Ayahnya yang begitu gembira membalasnya dengan menggelar pesta menyambut kedatangan anak yang hilang.
Kisah happy ending ini adalah drama "Saudaramu Telah Mati dan Hidup Kembali" yang dihadirkan dalam Kebaktian Saksi Yehuwa Distrik Jatim 2009, Minggu (5/7). Menurut panitia Kebaktian Saksi-saksi Yehuwa Jatim, Tjiptadi Edi Subekti, drama ini merupakan adaptasi dari kisah Lukas 15:11-32 tentang anak yang hilang.
"Inti dari drama ini adalah Allah Yehuwa mau menerima kembali orang yang berbuat kesalahan, asal bertobat dengan sungguh-sungguh. Pasti diterima kembali," katanya, .
Sekitar 3.005 orang saksi-saksi Yehuwa memadati SSCC Pakuwon Trade Center. Mengusung tema 'Tetaplah Berjaga-jaga', kebaktian ini mengampanyekan uraian Alkitab mengenai akhir dunia.
Menurut Tjiptadi, tema ini bagus untuk menumbuhkan kewaspadaan secara rohani sebagaimana yang ditonjolkan Yesus dalam pelayanannya. "Kita benar-benar harus memperhatikan dengan serius bukan hanya peristiwa sekarang ini, namun juga makna Alkitab di balik itu semua," tuturnya. Selain di Surabaya, kebaktian ini juga digelar di 26 kota lainnya. k2
Baca selengkapnya >>
Saksi Yehuwa Gelar Kebaktian Distrik
Sumber: Lampung Post
Rabu, 1 Juli 2009
KEAGAMAAN: Saksi Yehuwa Gelar Kebaktian Distrik
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Selama tiga hari, mulai 3--5 Juli 2009, jemaat Saksi Yehuwa di Lampung menggelar kebaktian distrik. Koordinator jemaat Saksi Yehuwa di Lampung, Raymond D. Sormin, Senin (29-6), mengatakan kebaktian yang mengundang 500 orang dan digelar di Gedung Serbaguna (GSG) Ernawan Khuai Jukhai, Bandar Lampung, mengangkat tema Uraian Alkitab mengenai akhir dunia.
"Kebaktian serupa juga digelar serentak di 27 kota se-Indonesia. Tema kebaktian adalah berjaga-jaga dan berdoa," kata Raymond. Menurut dia, dalam kebaktian itu akan dikupas tentang bagaimana Alkitab menerangkan dan menjelaskan makna perintah Yesus Kristus kepada murid-muridnya untuk "tetap berjaga-jaga".
"Kalimat ini menarik karena pembahasan kita kali ini dipandang dari sudut zaman modern. Bagaimana manusia di zaman modern ini memaknai perintah Yesus Kristus," ujar Raymond.
Dia menjelaskan kebaktian selama tiga hari tersebut dibagi menjadi beberapa sesi. Sesi pagi, akan dimulai pukul 09.20 setiap harinya. Sesi siang, dimulai pukul 13.50. "Pada Sabtu (4-7), sesi siang dimulai pukul 13.35. Pada Minggu (5-7), sesi siang dimulai pukul 13.20," jelas Raymond.
Semua sesi, kata dia, dibuka untuk umum, dan setiap jemaat yang hadir tidak dipungut biaya apa pun. "Kami menargetkan jemaat yang hadir sebanyak 500 orang. Saksi-Saksi akan melayani jemaat yang hadir dengan penuh sukacita dan tanpa pamrih," kata dia.
Terkait pelaksanaan kebaktian serupa yang digelar serentak di seluruh Indonesia, Raymond mengatakan total yang hadir diperkirakan mencapai 35 ribu orang. "Semua ibadat kebaktian menggunakan bahasa Indonesia. Di lokasi tertentu, selain bahasan Indonesia juga menggunakan bahasa Inggris dan bahasa isyarat," kata dia. n KIS/K-1
Baca selengkapnya >>
Rabu, 1 Juli 2009
KEAGAMAAN: Saksi Yehuwa Gelar Kebaktian Distrik
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Selama tiga hari, mulai 3--5 Juli 2009, jemaat Saksi Yehuwa di Lampung menggelar kebaktian distrik. Koordinator jemaat Saksi Yehuwa di Lampung, Raymond D. Sormin, Senin (29-6), mengatakan kebaktian yang mengundang 500 orang dan digelar di Gedung Serbaguna (GSG) Ernawan Khuai Jukhai, Bandar Lampung, mengangkat tema Uraian Alkitab mengenai akhir dunia.
"Kebaktian serupa juga digelar serentak di 27 kota se-Indonesia. Tema kebaktian adalah berjaga-jaga dan berdoa," kata Raymond. Menurut dia, dalam kebaktian itu akan dikupas tentang bagaimana Alkitab menerangkan dan menjelaskan makna perintah Yesus Kristus kepada murid-muridnya untuk "tetap berjaga-jaga".
"Kalimat ini menarik karena pembahasan kita kali ini dipandang dari sudut zaman modern. Bagaimana manusia di zaman modern ini memaknai perintah Yesus Kristus," ujar Raymond.
Dia menjelaskan kebaktian selama tiga hari tersebut dibagi menjadi beberapa sesi. Sesi pagi, akan dimulai pukul 09.20 setiap harinya. Sesi siang, dimulai pukul 13.50. "Pada Sabtu (4-7), sesi siang dimulai pukul 13.35. Pada Minggu (5-7), sesi siang dimulai pukul 13.20," jelas Raymond.
Semua sesi, kata dia, dibuka untuk umum, dan setiap jemaat yang hadir tidak dipungut biaya apa pun. "Kami menargetkan jemaat yang hadir sebanyak 500 orang. Saksi-Saksi akan melayani jemaat yang hadir dengan penuh sukacita dan tanpa pamrih," kata dia.
Terkait pelaksanaan kebaktian serupa yang digelar serentak di seluruh Indonesia, Raymond mengatakan total yang hadir diperkirakan mencapai 35 ribu orang. "Semua ibadat kebaktian menggunakan bahasa Indonesia. Di lokasi tertentu, selain bahasan Indonesia juga menggunakan bahasa Inggris dan bahasa isyarat," kata dia. n KIS/K-1
Baca selengkapnya >>
SSYI Gelar Kebaktian Distrik
Sumber: Suara Merdeka Cetak
23 Juni 2009
Malioboro
SSYI Gelar Kebaktian Distrik
YOGYAKARTA - Umat Kristen Saksi-saksi Yehuwa Indonesia (SSYI) Jateng dan DIY akan menyelenggarakan Kebaktian Distrik 2009, Jumat 26-Minggu 28 Juni di Yogyakarta.
Siaran pers yang dikeluarkan Kantor Cabang SSYI di Jakarta kemarin mengemukakan, kebaktian distrik di Auditorium UPN itu mengambil tema ”Tetaplah Berjaga-jaga”.
”SSYI sedang mengadakan kampanye besar-besaran untuk mengundang semua orang guna mendengarkan pembahasan-pembahasan menarik tentang uraian Alkitab mengenai akhir dunia. Saksi-saksi yakin masyarakat tertarik dan bahkan tergugah pada Kebaktian tersebut,” kata siaran tersebut.
Saksi-saksi mengantisipasi hadirin kebaktian yang banyak. Mereka siap menyambut banyak orang non-Saksi ke kebaktian. Mereka pun yakin semua yang hadir akan memperoleh manfaat dari informasi praktis dan tepat waktu yang disajikan. Di seluruh Indonesia, akan diselenggarakan 27 kebaktian di 27 kota. Di seluruh dunia, ada lebih dari 7.100.000 Saksi di lebih dari 103.000 sidang jemaat. (A18-72)
Baca selengkapnya >>
23 Juni 2009
Malioboro
SSYI Gelar Kebaktian Distrik
YOGYAKARTA - Umat Kristen Saksi-saksi Yehuwa Indonesia (SSYI) Jateng dan DIY akan menyelenggarakan Kebaktian Distrik 2009, Jumat 26-Minggu 28 Juni di Yogyakarta.
Siaran pers yang dikeluarkan Kantor Cabang SSYI di Jakarta kemarin mengemukakan, kebaktian distrik di Auditorium UPN itu mengambil tema ”Tetaplah Berjaga-jaga”.
”SSYI sedang mengadakan kampanye besar-besaran untuk mengundang semua orang guna mendengarkan pembahasan-pembahasan menarik tentang uraian Alkitab mengenai akhir dunia. Saksi-saksi yakin masyarakat tertarik dan bahkan tergugah pada Kebaktian tersebut,” kata siaran tersebut.
Saksi-saksi mengantisipasi hadirin kebaktian yang banyak. Mereka siap menyambut banyak orang non-Saksi ke kebaktian. Mereka pun yakin semua yang hadir akan memperoleh manfaat dari informasi praktis dan tepat waktu yang disajikan. Di seluruh Indonesia, akan diselenggarakan 27 kebaktian di 27 kota. Di seluruh dunia, ada lebih dari 7.100.000 Saksi di lebih dari 103.000 sidang jemaat. (A18-72)
Baca selengkapnya >>
SSY Gelar Kebaktian Istimewa Berbahasa Isyarat
Sumber: Surya Online
SSY Gelar Kebaktian Istimewa Berbahasa Isyarat
Senin, 23 Maret 2009
Respons Bagus, Hadirin Lampaui Perkiraan
SURABAYA | SURYA – Untuk kali pertama, Saksi-Saksi Yehuwa (SSY) Indonesia melaksanakan Kebaktian Istimewa Berbahasa Isyarat di Surabaya, yang diikuti para hadirin tuna rungu dari beberapa kota. Kebaktian berlangsung di Balai Kerajaan SSY di Kalijudan Madya II/9, Surabaya, Minggu (22/3), pukul 09.00 WIB-14.55 WIB.
Penatua SSY Sidang Bahasa Isyarat Surabaya, Andreas Guritno, menjelaskan, para hadirin datang dari Jateng (Solo, Semarang, dan Salatiga), Jatim (Surabaya, Malang, dan Jember), Bali, dan Daerah Istimewa Jogjakarta. “Saudara-saudari itu berasal dari Distrik Jawa VII, VIII, IX dan X,” katanya kepada Surya sewaktu rehat kebaktian, Minggu (22/3) siang.
Meski baru pertama kali dilangsungkan, kebaktian khusus bagi SSY dan para peminat pelajaran Alkitab yang menderita tuna rungu ini memperoleh respons bagus. Terbukti, ada 239 hadirin termasuk 97 kaum tuna rungu memenuhi tempat kebaktian tersebut. Hadir pula Pengawas Wilayah SSY, Suryadi.
“Kapasitas Balai Kerajaan di Kalijudan ini 170 tempat duduk. Semula kami perkirakan yang akan hadir maksimal 160 saudara dan saudari, tetapi ternyata ada 239 hadirin,” kata Andreas dengan nada suka cita.
Dalam kebaktian tersebut tampil 11 orang pembicara (pengkotbah), di mana 10 orang pembicara di antaranya menggunakan bahasa isyarat. Hanya satu pembicara yang memakai penerjemah.
Kebaktian juga dilengkapi dengan pembaptisan air terhadap Restu, 22, tuna rungu asal Salatiga. Pembaptisan itu menandai pelantikan Restu sebagai SSY yang membaktikan kehidupan untuk melayani Yehuwa (Allah) dengan memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah alias menjadi peng-Injil.
Sebelum upacara baptisan, disampaikan khotbah pembaktian dan baptisan oleh Andreas Guritno. Khotbah berjudul ‘Dibaptis dengan Nama Roh Kudus’ ini disampaikan menggunakan bahasa isyarat. Sedangkan Suryadi antara lain memberikan khotbah berjudul ‘Bagaimana Kita Membuktikan Diri Layak Sebagai Pelayan Allah’, yang diterjemahkan oleh Yeremia dari Sidang Salatiga. jun
Baca selengkapnya >>
SSY Gelar Kebaktian Istimewa Berbahasa Isyarat
Senin, 23 Maret 2009
Respons Bagus, Hadirin Lampaui Perkiraan
SURABAYA | SURYA – Untuk kali pertama, Saksi-Saksi Yehuwa (SSY) Indonesia melaksanakan Kebaktian Istimewa Berbahasa Isyarat di Surabaya, yang diikuti para hadirin tuna rungu dari beberapa kota. Kebaktian berlangsung di Balai Kerajaan SSY di Kalijudan Madya II/9, Surabaya, Minggu (22/3), pukul 09.00 WIB-14.55 WIB.
Penatua SSY Sidang Bahasa Isyarat Surabaya, Andreas Guritno, menjelaskan, para hadirin datang dari Jateng (Solo, Semarang, dan Salatiga), Jatim (Surabaya, Malang, dan Jember), Bali, dan Daerah Istimewa Jogjakarta. “Saudara-saudari itu berasal dari Distrik Jawa VII, VIII, IX dan X,” katanya kepada Surya sewaktu rehat kebaktian, Minggu (22/3) siang.
Meski baru pertama kali dilangsungkan, kebaktian khusus bagi SSY dan para peminat pelajaran Alkitab yang menderita tuna rungu ini memperoleh respons bagus. Terbukti, ada 239 hadirin termasuk 97 kaum tuna rungu memenuhi tempat kebaktian tersebut. Hadir pula Pengawas Wilayah SSY, Suryadi.
“Kapasitas Balai Kerajaan di Kalijudan ini 170 tempat duduk. Semula kami perkirakan yang akan hadir maksimal 160 saudara dan saudari, tetapi ternyata ada 239 hadirin,” kata Andreas dengan nada suka cita.
Dalam kebaktian tersebut tampil 11 orang pembicara (pengkotbah), di mana 10 orang pembicara di antaranya menggunakan bahasa isyarat. Hanya satu pembicara yang memakai penerjemah.
Kebaktian juga dilengkapi dengan pembaptisan air terhadap Restu, 22, tuna rungu asal Salatiga. Pembaptisan itu menandai pelantikan Restu sebagai SSY yang membaktikan kehidupan untuk melayani Yehuwa (Allah) dengan memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah alias menjadi peng-Injil.
Sebelum upacara baptisan, disampaikan khotbah pembaktian dan baptisan oleh Andreas Guritno. Khotbah berjudul ‘Dibaptis dengan Nama Roh Kudus’ ini disampaikan menggunakan bahasa isyarat. Sedangkan Suryadi antara lain memberikan khotbah berjudul ‘Bagaimana Kita Membuktikan Diri Layak Sebagai Pelayan Allah’, yang diterjemahkan oleh Yeremia dari Sidang Salatiga. jun
Baca selengkapnya >>
Ribuan Warga Hadiri Kebaktian SSY
Sumber: Surya Online
Ribuan Warga Hadiri Kebaktian SSY
Selasa, 30 Juni 2009
JOGJAKARTA – Kebaktian Distrik Saksi-Saksi Yehuwa (SSY) di Yogyakarta dihadiri ribuan warga Saksi maupun non-Saksi dari kawasan Yogyakarta dan Jateng. Kebaktian tahunan ini berlangsung tiga hari, Jumat (25/6)-Minggu (28/6), di Auditorium UPN Veteran, Jl Ring Road Utara.
Puncak hadirin, 2.736 orang, tercatat pada hari Minggu (28/6). “Kami sangat senang banyak anggota masyarakat menghadiri kebaktian bertema ‘Tetaplah Berjaga-jaga!’ ini,” jelas Suwahyono, bagian Pelayanan Berita Kebaktian Distrik Yogyakarta, kepada Surya sesuai kebaktian, Minggu (28/6) sore.
Selain diisi serangkaian khotbah berdasar ayat-ayat Alkitab, kebaktian dilengkapi pembaptisan 42 anggota baru SSY. “Pembaptisan adalah lambang pembaktian kepada Yehuwa (nama pribadi Allah, Red). Saksi-Saksi memandang pembaptisan sebagai langkah sangat penting untuk memperoleh perkenan Allah, dan akhirnya selamat melewati akhir dunia,” ujar Suwahyono.
Kebaktian Distrik diselenggarakan SSY di 27 kota se-Indonesia. Melalui kebaktian ini para pengikut Yesus Kristus tersebut antara lain mengingatkan pentingnya perintah Yesus dalam Matius 24:42 dan Markus 13:37, agar murid-muridnya ’tetap berjaga-jaga’.
“Temanya sangat bagus untuk menandaskan pentingnya waspada secara rohani sebagaimana ditonjolkan Yesus dalam pelayanannya,” kata T Mujiman, seorang anggota panitia kebaktian. jun
Baca selengkapnya >>
Ribuan Warga Hadiri Kebaktian SSY
Selasa, 30 Juni 2009
JOGJAKARTA – Kebaktian Distrik Saksi-Saksi Yehuwa (SSY) di Yogyakarta dihadiri ribuan warga Saksi maupun non-Saksi dari kawasan Yogyakarta dan Jateng. Kebaktian tahunan ini berlangsung tiga hari, Jumat (25/6)-Minggu (28/6), di Auditorium UPN Veteran, Jl Ring Road Utara.
Puncak hadirin, 2.736 orang, tercatat pada hari Minggu (28/6). “Kami sangat senang banyak anggota masyarakat menghadiri kebaktian bertema ‘Tetaplah Berjaga-jaga!’ ini,” jelas Suwahyono, bagian Pelayanan Berita Kebaktian Distrik Yogyakarta, kepada Surya sesuai kebaktian, Minggu (28/6) sore.
Selain diisi serangkaian khotbah berdasar ayat-ayat Alkitab, kebaktian dilengkapi pembaptisan 42 anggota baru SSY. “Pembaptisan adalah lambang pembaktian kepada Yehuwa (nama pribadi Allah, Red). Saksi-Saksi memandang pembaptisan sebagai langkah sangat penting untuk memperoleh perkenan Allah, dan akhirnya selamat melewati akhir dunia,” ujar Suwahyono.
Kebaktian Distrik diselenggarakan SSY di 27 kota se-Indonesia. Melalui kebaktian ini para pengikut Yesus Kristus tersebut antara lain mengingatkan pentingnya perintah Yesus dalam Matius 24:42 dan Markus 13:37, agar murid-muridnya ’tetap berjaga-jaga’.
“Temanya sangat bagus untuk menandaskan pentingnya waspada secara rohani sebagaimana ditonjolkan Yesus dalam pelayanannya,” kata T Mujiman, seorang anggota panitia kebaktian. jun
Baca selengkapnya >>
Langgan:
Entri (Atom)
